Minggu, Desember 26, 2010

Masa Kecil di Pasundan

Masa dimana aku sempat menempati kawasan perkotaan sejak bapak dan emih tingal di Jl.Pasundan. Nama Pasundan berasal dari keta "Pasundaan", yang berarti kawasan bermukimnya orang-orang Sunda dan budaya serta bahasa Sunda telah menjadi bahasa pengantar sehari-hari. Kami sendiri bukan urang Sunda tulen, waktu masih anak-anak bahasa pengantar masih kuat bahasa Jawa, tetapi sedikit demi sedikit bahasa sehari-hari mulai berubah menjadi bahasa Sunda, karena memang aku dan kakak ku bersekolah di SD Negeri Moh.Toha yang lebih kuat memegang budaya Sundanya. Darah Sunda kami mengalir dari ibu kami yang berasal dari Indihiyang Tasikmalaya tempat dimana nenek moyangku tinggal.
Lingkunganku berada persis di ujung jalan Pasundan (arah Jl.Ciateul ke Jl.Pungkur d/h Abdul Muis), saat itu rumahku berada pada barisan yang berdempetan pada petak kedua No.95. Petak pertama dihuni oleh seorang pengusaha kerupuk dan petak kedua dihuni oleh Ma’Icih, rumah bapak dan warung, tempatnya sangat bersahaja, tidak terbayang olehku, saat itu aku tinggal dalam sebuah gubuk dari bilik/gedek bambu, tapi yang jelas aku merasakan hangatnya tinggal dalam sebuah keluarga bersama bapak dan emih, orangtua yang aku sayangi.

Bapak mungkin menyadari kalau kondisi seperti itu berpengaruh terhadap kesehatan anak-anaknya, maka aku ingat benar kalau salah satu ruangan untuk tempat kami tidur dibuat senyaman mungkin. Kamar yang sekelilingnya hanya dari bilik bambu’ yang dicat kapur tohor putih seadanya, disulap menjadi tempat berlindung yang nyaman dan aman dari gangguan udara dan serangga. Pantesan kalau pulang kantor, bapak selalu membawa gulungan kertas singkong dan lem kanji untuk dijadikan sebagai pelapis dinding bilik bambu yang sudah mulai rapuh dan bolong, sampai lama kelamaan bilik bambu yang ditempeli bapak semakin tebal. Seolah-olah bapak telah menciptakan ruangan kulit telur sebagai tempat tidur yang nyaman untuk anak-anaknya, ditambah dengan khayalan yang diciptakan bapak melalui dongeng-dongeng tradisionalnya sebelum tidur.

Usiaku masih di bawah lima tahun, sementara adik-adik-ku si kembar masih baru bisa jalan. Dengan kondisi bapak dan Emih yang begitu bersahaja adakalanya menimbulkan rasa iba tetangga di seberang jalan, apalagi waktu itu si kembar masih sangat kecil sehingga ada saja yang membantu atau sekedar menjaga adik-adiku. Katakanlah Ibu Andung dan anak-anaknya kang Heri dan Pepen, mereka mengasuh kami dengan mengajak ke tempat tinggalnya, yang pada waktu itu tergolong besar dan berada.
Sabtu sore adalah waktu khusus yang dinanti-nanti bersama adik dan kakak-ku untuk ikut nonton TV film ‘Daktari’ di rumahnya, seperti biasa sebelumnya sengaja Emih memandikan kami  lebih awal.


Diajak Bibi Etty sekedar jalan-jalan ke alun-alun, maklum saat itu ada Bang Ikin (suami Bi Etty) lagi acara malam mingguan ke Bandung sehingga aku sering diajak, lalu pulangnya ditraktir jajanan kacang tanah rebus atau aromanis di pinggir jalan.


Bersama bapak naik sepeda ontel ke Bojongloa (kawasan perempatan Pasirkoja dan Astana Anyar), karena aku masih kecil dan kakiku takut masuk jari-jari sepeda, maka kedua kakiku diikatkan dengan kain syal ke jok sementara kakak-ku dibonceng duduk di belakangku. Waktu itu kawasan di sana terkenal dengan martabak Acep-nya dan pusat pengrajin kopor kulit (keterangan dari Emih), tapi pulangnya harus ditambah beban bawa karung beras di belakang sepeda. Bisa dibayangkan bapak mesti mengayuh sepeda dari Bojongloa, Astana Anyar, nyebrang Ottoiskandardinata ke Ciateul, lewat Moh.Toha, belok kiri ke Jl.Pasundan dan akhirnya ke rumah. Informasi terakhir yang diperoleh dari keterangan bapak sebalum wafat kalau sepeda buatan Inggris merk “Raleigh’ tersebut dihibahkan ke penjaga kantor Balai Besar PJKA, sayang memang, tapi itulah bapak. Nonton film dengan bapak ke Bioskop Kapitan gaya misbar, belakangan berganti nama menjadi Bioskop Karapitan dan kemudian Bioskop Citra, sekarang bioskop tersebut gulung tikar dan menjadi pertokoan. Dahulu diberi julukan ‘misbar’ atau gerimis bubar, karena memang bioskopnya dirancang terbuka dengan tempat duduk seadanya ala tribun beralaskan semen tanpa atap, sehingga kalau hujan gerimis saja, penonton pada bubar cari perlindungan, lucu memang. Adakalanya karena saat itu masih menggunakan proyektor sebagai pemutar film, di tengah film sedang seru-serunya tiba-tiba …prĂȘt..lampu mendadak mati dan harus istirahat kurang lebih 10 menit, mungkin lampu sorot terlalu panas atau film yang masih memakai jenis pita seluloid putus harus diganti atau disambung dahulu. 
    Begitu hangat dan perhatiannya bapak dan Emih saat itu, bagaimana aku dididik menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tua, segala cara dan upaya dilakukan agar aku tetap mengingat pesan-pesan yang disampaikannya sampai dewasa kelak.
    Kehidupanku terus berlanjut sampai aku masuk usia sekolah dasar, tentu saja emih memasukanku ke Sekolah Dasar Negeri yang saat itu termasuk yang terbaik dan yang pasti uang pangkal dan bayaran perbulannya sangat murah. Selain memang kakakku sudah lebih dulu sekolah di situ, jadi masih ada teman kalo berangkat sekolah. Tapi adakalanya emih telat menjemputku pulang sekolah karena ke pasar dulu untuk belanja, sehingga guru kelasku Bu Nunung harus mengantarku pulang ke rumah di Pasundan. Memang jarak rumah ke sekolahku tidak terlalu jauh sekitar 800 meter dan biasa ditempuh dengan jalan kaki melewati gang-gang kecil sekitarnya.
    Pernah suatu ketika kakakku berkelahi dengan anak sekitar karena pulang sekolah ada yang memaksa malak, meski akhirnya kami berdua lari tunggang langgang sampai rumah.
    Kehidupanku dan kenanganku di Jalan Pasundan berakhir ketika aku baru saja pulang sekolah di siang hari, banyak kerumunan orang saat itu di pinggir jalan depan rumahku dan mendapatkan tak ada satu rumahpun yang biasanya jadi tempat berteduh di situ. Semuanya sudah rata dengan tanah, disertai debu tebal dari bekas bongkaran. Aku hanya memandang salah satu benda yang paling kukenal masih berdiri ditempatnya dan belum terangkat yaitu lemari jati tua, satu-satunya sekat yang menghalangi tempat tidur kami setiap hari. Aku bingung, aku hanya menatap orang-orang yang sedang sibuk membongkar paksa semua bangunan di bilangan jalan Pasundan saat itu.
    Masih mengenakan tas dan seragam sekolah aku dan kakak-ku berlari semakin dekat  menghampiri rumahku bercampur bingung, bapak segera menggeret lenganku menyuruhku ikut tetapi karena aku tidak mengerti apa yang telah terjadi, aku  menurut saja waktu dinaikan ke atas truk, tidak tahu akan  kemana rencana bapak selanjutnya.

    Tidak ada komentar: