Tampilkan postingan dengan label Bandoeng-Jadoel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandoeng-Jadoel. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 05, 2012

MENGISI MASA LIBURAN ANAK-ANAK WAKTOE DOELOE.

Masa liburan adalah masa yang paling ditungu oleh sebagian besar anak-anak sekolahan, sejak jaman dahulu sampai sekarang, bermacam-macam cara bagaimana anak-anak dapat mengisi waktu liburannya dengan hal yang bermanfaat.
Liburan bertepatan dengan bulan puasa memang membawa kesan mendalam, selain suasana religius yang didapatkan juga memberikan arti khusus dalam menjalankan kewajiban berpuasa yaitu mendidik anak-anak bertanggungjawab dan disiplin, bukan kepada seorangpun tetapi kepada Sang Maha Kuasa yang memberikan perintah kepada umatNya.

Sekilas ke belakang menginjak masa liburan waktu kecilku di bangku sekolah dasar. Saat itu awal liburan sekolah selalu bertepatan dengan awal dimulainya bulan Ramadhan dimana seluruh umat Islam wajib berpuasa. Seperti biasa sehabis sholat Isya selesai masjid-masjid selalu dipenuhi anak-anak yang akan menjalankan sholat Taraweh, maka halaman masjidpun ramai dipenuhi oleh para pedagang yang mungkin siangnya tidak dapat berjualan seperti hari-hari biasanya. Dari tukang mie baso, baso tahu, cilok cibon, bandrek bajigur sampai tukang es puter bergerombol di sekitar mesjid Garuda menjaring anak-anak yang memang ada yang cuma berniat main dan jajan.Sehabis tarawehan aku paling-paling cuma nyari minuman segar yang disediakan bapak dan emih di rumah, kalau sampai harus jajan kayaknya waktu itu mesti mikir dua kali, apalagi masa liburan kadang uang sakuku juga ikutan libur kecuali kalau dapat jatah bulanan Rp 5.000 oleh bapak setiap gajian awal bulan, itu pun sebagian besar aku tabung rutin buat lebaran. Aku ingat betul dahulu emih sengaja membuat catatan tabungan anak-anak yang diisi setiap hari dan dibagikan pada bulan puasa menjelang lebaran tiba. Walaupun cuma untuk uang saku anak-anaknya yang tidak seberapa, mendapatkan sejumlah uang hasil tabungan dalam setahun tentu sangat menyenangkan. Segala macam kebutuhan lebaranpun dapat diperoleh, seperti membeli baju atau kaos pilihan sendiri, mainan, buku bacaan sampai makanan, semua dibeli dari hasil jerih payah selama setahun.

Saat-saat yang dinantikan untuk membuka tabunganpun tiba, bukan tabungan bank, ATM apalagi deposito….celengan tembikar berbentuk ayam, kodok atau ikan yang sengaja dibeli dan isinya sudah berat dengan uang recehanpun dibawa ke tengah rumah yang agak luas. Satu per satu “Prak..prak…prak”, diiringi gemerincing uang recehan milik masing-masing berserakan kemana-mana. Tentu saja dengan perasaan was-was takut ada yang ngambil, cepat-cepat koin-koin itu dikumpulkan dan dihitung sesuai pendapatannya.Terkadang gelak tawa bercampur sedih melihat celengan ayamnya harus rela hancur berkeping-keping tetapi rasa puas terpancar di raut wajah saudara-saudaraku saat itu, kebahagiaan yang tidak akan aku dapatkan kelak kalau sudah dewasa.

Saat menjelang adzan maghrib tentunya menjadi saat yang paling seru bagi anak-anak dalam keluargaku, bagaimana tidak di atas meja makan sudah terkumpul jambu air dan jambu batu, berjejer sesuai miliknya masing-masing yang siap dilahap kelihatan begitu segarnya untuk buka puasa, sementara emih mempersiapkan teh manis panas dan makanan pembuka di atas meja.Sambil menunggu adzan maghrib tiba, kakakku biasanya menyetel siaran dongeng radio atau cerita-cerita bodor dari studio tertentu seperti dongeng ‘si kunang’, ‘si kampeng’ yang saat itu memang sedang in. Saat siaran dongeng berganti dengan music gambus yang khas, anak-anakpun berhamburan mendekati meja makan dengan masing-masing makanan di tangannya dan pada saat di radio berbunyi ‘Tolok tok..tok, dug…dug…dug, barulah adzan berkumandang tanda buka puasa dimulai, terkadang tanpa membaca niat buka puasa ..makanan sudah blem..masuk kemulut duluan, dasar anak-anak.Setelah minum segelas teh manis, selera segarnya buah yang sengaja dipetik dari kebun hilanglah sudah terimbas rasa penat duluan.Lain buka, lain lagi cerita menjelang sahur.
Dengan mata yang masih ngantuk dan berat untuk dibuka tetapi ada kewajiban yang harus dijalani, kupaksakan bangun sempoyongan menuju kamar mandi sekedar cuci muka dan sikat gigi, syarat mutlak kalau bangun tidur. Rasanya makan tanpa gosok gigi gimana gitu.Makanan panas sudah emih sediakan di meja makan, anak-anakpun tak pernah mogok kalau dalam soal makan, meskipun kadang saking ngantuknya terpaksa makan sambil mata merem.Doa niat berpuasapun bersama-sama diucapkan setelah waktu imsak tiba. Maka pagi itu dimulai lagi babak baru dalam menahan lapar dan haus, meskipun begitu,

Alhamdulillah kami dapat menjalankannya penuh sampai lebaran tiba, kecuali kalau di tengah jalan ada yang sakit.Dinginnya pagi sehabis sholat subuh, seperti biasa kami isi waktu liburan dengan membuat mainan mobil dorong dari bambu dengan roda dari sandal jepit bekas dan badannya pake kaleng susu, sangat meriah, apalagi kalau dipasangi lilin yang menyala.
Bosan mainan tersebut, kami sengaja membangun rumah-rumahan di atas pohon jambu untuk sekedar samtai sambil baca-baca buku.Saat itu yang namanya petasan dan kembang api masih sangat marak diperjualbelikan, sehingga kadang kadang banyak berita kecelakaan di berbagai pelosok nusantara akibat ledakan mercon dan petasan. Sebagai contoh teman mainku di jalan Elang sana, tangannya hancur gara-gara petasan yang dikiranya sudah mati.Dan lucunya kakaku, setelah menyulut petasan, ketika menutup telinga, lehernya kecolok obat nyamuk, atau cerita aku sewaktu mengumpulkan obat petasan di atas kertas sengaja kubakar dengan obat nyamuk, tiba-tiba menyala dengan asap putih kena mukaku, saat itu mukaku panas dan lucunya bulu mataku habis keriting semua.

Tahu betul kalau bermain petasan itu sangat berbahaya, permainanku beralih di tahun-tahun selanjutnya dengan membuat Meriam/Lodong tepat di bawah rumpun pohon pisang yang diarahkan ke jalan, dengan berbekal 1 ons karbit dan selongsong bambu yang ditimbun dengan tanah serta obor minyak tanah dapat menghasilkan suara yang menggelegar kalau disulut. Tetapi menyadari suaranya sangat mengganggu penduduk kompleks dan masjid, maka lodong ini pun dibongkar sendiri.Dasar anak-anak tak habis habisnya mencari apa saja yang bisa jadi mainan, dari busi bekas yang sudah dimodifikasi dengan mur, karet dan rumbai-rumbai dari tali raffia lalu diisi obat bentol jadilah semacam peledak kalau di lemparkan dan terbanting ke tanah. Seru juga..entah siapa yang memulai ide kreatif ini, yang pasti selama masa liburan, anak-anak benar-benar mendapatkan pengalaman bermain yang mengesankan biarpun hanya dengan kesederhanaan.Bandingkan dengan mainan anak-anak sekarang meskipun semakin terpenuhi imajinasinya namun dalam hal kreatifitas dan olah gerak masih kalau oleh anak-anak dahulu.Maka sudah saatnya anak-anak jaman sekarang untuk mulai menggali kembali permainan-permainan lama/tradisional yang lebih kreatif dan menantang tapi menarik.

Baca Selengkapnya >>

Senin, Mei 30, 2011

Sejarah Kota Bandung

Mengenai asal-usul nama "Bandung", dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata Bandung" dalam bahasa Sunda, identik dengan kata "banding" dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung.
Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).
Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.
Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

Berdirinya Kabupaten Bandung

Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan "Tatar Ukur". Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut "Ukur Sasanga".
Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).

Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari rtu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.

Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suradiwangsa menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.

Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni.

Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekwensi dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa Kerajaan Mataram.
Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara Pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa Kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632.

Setelah "pemberontakan" Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu juga dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk menstabilkan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur.

Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan "Piagem Sultan Agung", yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupagten Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.
Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan sttus administrative yang jelas, yaitu kabupaten.
Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan) sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede.

Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang.
Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.
Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupti atas rakyatnya.
Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, ha memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, ha memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan dan hak mengadili.
Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahn dan gaya hidup bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.
Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni (perjanjian pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.
Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlandan).

Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.
Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun (merupakan bupati pertama) ankatan Mataram yang memerintah sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R.A. Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung.


Berdirinya Kota Bandung

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (Desember 1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).
Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang ter;etak di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut.
Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah), karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.

Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun.
Semula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti) kemudian ia pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung (jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang), Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang). Di tempat itu deandels menancapkan tongkat seraya berkata: "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!" (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!". Rupanya Deandels menghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu.
Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810.

Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.
Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No.18, Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867.

Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api "Lin Barat", maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun.
Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur)
Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918) menyambut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada.
Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) yang dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi (Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden Ordonantie) sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung
Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota (Gemeenteraad), tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).

Oleh: A. Sobana Hardjasaputra

Baca Selengkapnya >>

Minggu, Mei 08, 2011

Kisah sukses majalah Aktuil

Putus Dirundung Malang
Kisah sukses majalah Aktuil sebelum bermimikri jadi Editor
ANGIN kering bulan Juni berembus di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Percetakan PT. Timbul yang menempati gedung nomor 57, bangunan ekskolonial Belanda berlantai dua, terasa sunyi.

Di lantai satu, terlihat sebuah kamar kerja dengan perabotan tua yang menyita ruang. Hanya ada dua orang di situ: Maman Sagith, pemimpin kantor, dan Ina Herlina, satu-satunya tenaga administrasi.

Areal percetakan, yang terletak di ekor bangunan, hanya berjarak beberapa langkah dari ruang mereka. Di mulut pintu, tampak mesin absen ketok produk 1970-an yang sudah tak digunakan.


Panas dan pengap. Dua kipas yang berfungsi membuang udara sudah pensiun. Sekurang-kurangnya ada dua meja dan empat meja kecil. Semuanya penuh cacat oleh goresan benda tajam dan lelehan tinta membatu. Di atas meja, kertas-kertas tak beraturan, mulai kertas folio, afvaal, sampai doorslag, berceceran di sana-sini.
Di tengah ruangan teronggok satu unit mesin cetak buatan Italia, Nebiolo Invicta 36. Tahun 1970-an, ketika dunia pers dijangkiti demam offset, impian besar para pengusaha percetakan dan penerbitan di negeri ini disandarkan padanya.
Di seberangnya terdapat mesin potong Polar-Mohr Standar 90. Tak jauh darinya, ada sebuah bangunan aneh, terpencil di pojok ruangan sebelah kiri. Isi bangunan mirip saung petani di sawah ini tak lain dari meja exposer uzur untuk mengerjakan plate. Di atas meja, tampak deretan lampu neon, yang bingkainya sudah dipenuhi kembang debu.

Bergeser ke sayap kanan, dua letter press, mesin cetak yang masih menggunakan klise pelat timah, mengundang perhatian. Original Heidelberg, demikian jati diri sang mesin, di hari tuanya, masih sanggup mencetak sampul buku atau majalah sebanyak 1.500 lembar per jamnya.

Seorang pria dengan uban putih tumbuh merata di kepalanya bekerja di sana. Namanya Kuswari. Dia tak menoleh ketika saya tegur. Pada teguran ketiga, baru dia menoleh dan tersenyum. Sesekali dia mengambil kuas dan mengkilik-kilik mesin. Kali lain dia memindahkan hasil cetak ke meja di sebelahnya. Kuswari dan mesin itulah yang melahirkan jabang bayi sebuah majalah fenomenal 1970-an: Aktuil.

PADA masa jayanya, ruang redaksi Aktuil menempati lantai dua percetakan PT. Timbul. "Mari ke atas," ajak saya kepada Maman Sagith, layaknya tuan rumah kepada tamu.

Saya menaiki tangga pendek. Ruangan redaksi benar-benar sudah berubah. Tak ada lagi meja tulis yang semrawut karena tumpukan kertas atau majalah-majalah luar negeri. Tak ada lagi Royal dan Remington, mesin tik berkelas pada 1970-an. Ruangan berlantai teraso kerang luks warna abu-abu coklat seluas 250 meter persegi, yang semula tanpa sekat itu, kini jadi bilik-bilik kecil. Ada empat bilik di sana: ruang tamu, kamar tidur, studio, dan kantor studio.

Di pojok sayap kanan saya membayangkan seorang pria gondrong, berkaos oblong, dan bercelana jins sedang mengetik dengan cepat, karena harus mengurusi hal-hal lain yang menunggu sentuhannya dari koordinasi reportase, menyunting naskah, membayar honor tulisan, mengecek mesin cetak, distribusi majalah, sampai memegang kunci kantor.

Pria yang saya bayangkan tak lain dari Maman Sagith, yang kini berdiri di samping saya. Penampilan eks manajer Dara Puspita, sebuah kelompok musik asal Surabaya yang terkenal pada 1970-an ini, seperti pria kebanyakan yang sedang menghadapi senja, dengan sejumput kenangan masa jaya yang tak jelas lagi buat apa.

Seperti juga Kuswari, Sagith adalah awak Aktuil. Sagith bekerja sejak 1967, tahun pertama Aktuil dihadirkan ke hadapan publik. "Tapi saya tidak termasuk pendiri Aktuil. Yang mendirikan Mas Toto," katanya. Mas Toto adalah Toto Rahardjo, sepupunya dari garis ibu, yang memiliki PT Timbul.

Aktuil memang lahir dari sebuah kesepakatan. Prakarsa bermula datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 - 1974 ini, tidak puas dengan majalah tempatnya berkarya yang hanya menyajikan profil pemusik dan chord lagu. Dia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Dari obrolan ringan, mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut. Rahardjo rupanya sudah lama mengidamkan sebuah media yang dapat memberikan panduan informasi, selain untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan seninya.

Di rumah Syamsudin - publik musik mengenalnya pemusik Sam Bimbo- mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. "Ini bahasa Indonesia yang salah memang. Tapi, saat itu kami sedang gandrung-gandrungnya majalah Actueel," kata Denny Sabri Gandanegara. Actueel adalah majalah musik terbitan Belanda, yang masuk ke kota Bandung melalui jalur bursa media Cikapundung. "Nama Aktuil diusulkan untuk pertama kalinya oleh Avianto, sedang logonya dibuatkan Dedi Suardi," tambah Rahardjo.

Timbul persoalan bagaimana mereka mendapat tambahan biaya investasi, yang setelah dihitung ternyata memerlukan dana sekitar Rp 10 juta (kurs rupiah saat itu Rp 900 untuk US$1). Mereka kemudian mengajak Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, keduanya anggota Viatikara.

Ramai-ramai menunjuk Toto Rahardjo sebagai pemimpin umum-cum-pemimpin redaksi, mereka berencana meluncurkan edisi perdana pada Mei 1967. Namun, karena satu dan lain hal, terutama karena hampir sebagian besar dari mereka tidak memiliki latar jurnalistik, peluncuran nomor perdana molor. Ketika urusan redaksional teratasi, kerumitan lainnya muncul: mereka tak tahu tempat mendapatkan kertas. Selebihnya, percetakan milik keluarga Rahardjo ternyata memerlukan tambahan listrik. Puncak kesulitan, tak ada seorang pun di antara mereka yang tahu persis bagaimana mengerjakan separasi dan opmaak.

Toh, akhirnya, satu per satu kesulitan mereka singkirkan. Berbekal izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat, organisasi militer yang sangat berkuasa, nomor perdana Aktuil diterbitkan pada 8 Juni 1967.
Awak Aktuil yang hampir seluruhnya berasal dari keluarga kelas menengah kota. Tak urung mereka merasakan suka-duka mengecerkan majalah. Para pengecer dadakan ini berkeliling kota bersepeda motor. Sebagian bahkan melarikan majalah ke luar kota Bandung, seperti Sumedang, Garut, dan Cianjur. Oplah 5.000 eksemplar ludes dalam waktu kurang seminggu. "Siga kacang goreng kasar na mah (seperti kacang goreng kasarnya)," kenang Gandanegara.
Pada nomor kedua, mereka tak mau diganggu lagi problem keredaksian. Karenanya, Maman Sagith, mantan awak Harian Banteng, mereka comot. Pada nomor ini mereka baru berani menetapkan kebijakan periodisasi terbit: dwimingguan.

DENNY Sabri Gandanegara, kelahiran Garut 1948, tidak perlu rumah sakit jiwa untuk mengobati kegilaannya pada Deep Purple, sebuah kelompok musik rock asal Inggris yang sedang merajai ingar-bingar blantika musik cadas. Maka, selepas edisi nomor tiga, dia siap-siap menuju Eropa. Kepada ayahnya, dia bilang bakal kuliah di sana. Kepada kawan-kawannya di redaksi Aktuil, dia janji akan mengirimkan laporan pandangan mata pentas para pemusik rock, terutama Deep Purple.
Ternyata, Gandanegara malah makin tenggelam ke dasar kegilaannya hingga uang di koceknya untuk hidup dua tahun terancam habis hanya dalam beberapa bulan. Tangannya pun enggan menyentuh mesin tik. Alhasil, laporan pandangan mata yang dijanjikan hendak dikirimkan segera sesampai di Eropa, hanya menjadi dedak di dalam benak.

Di Bandung, pekerjaan redaksi praktis hanya dikerjakan oleh dua orang: Maman Sagith dan Sonny Suriaatmadja, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Kurangnya personel membuat kerja mereka benar-benar spartan. Apa saja mereka garap. Dari pengumpulan sampai pengolahan informasi, dari pekerjaan layout sampai mengocek tinta cetak, dari menjilid sampai mengepak, juga mengedarkan majalah. "Wartawan sekarang sungguh beruntung. Semua serba otomatis. Ada tape recorder, ada komputer. Dulu, kalau tangan belum belepotan, belum bisa disebut wartawan," ujar Sagith pada saya.

Pada 1968, kantor redaksi Aktuil di 2000 Hamburg 52, Wichman Sto. 42/B Grahn, Jerman Barat, mulai mengirimkan hasil reportase. Namun, sambutan publik masih biasa-biasa saja. Tampaknya, reportase tersebut kurang menggigit karena sebagian besar isinya menyadur majalah asing.

Di Bandung, sejak awal rezim Orde Baru naik ke altar kekuasaan, majalah-majalah asing, baru atau bekas pakai, boleh dibilang menyerbu deras bursa media Cikapundung. Tak terkecuali Muziek Express, terbitan Belanda, yang acap dijadikan rujukan Gandanegara.

Sonny Suriaatmadja tidak kehabisan akal. Ia menerjemahkan artikel dari majalah-majalah tersebut untuk tulisan-tulisannya, sekadar usaha untuk menanamkan kebiasaan membaca Aktuil. Paling tidak, berusaha bertahan hidup dari kurangnya artikel-artikel yang masuk.

Usaha Suriaatmadja tidak sia-sia. Aktuil terus bertahan sampai Suriaatmadja
punya ide menurunkan tulisan bertema perubahan gaya hidup Barat nun jauh di seberang benua. Dikemas dalam artikel serial sepanjang 1969, Suriaatmadja antara lain memotret abc kehidupan hippies: mulai sistem sosial yang mereka bangun, ideologi, cara berbusana, seks dan orgi, sampai bagaimana mereka bergaul dengan mariyuana.

Artikel serial tersebut mendapat sambutan luar biasa. Surat-surat dari pembaca terus mengalir ke meja redaksi untuk memberi komentar atau sekadar bertanya. Oplah Aktuil pun bergerak naik hingga tiga kali lipat dibanding terbit pertama kali. Percetakan PT. Timbul gelagapan. Ledakan oplah tiba-tiba, karena banyaknya pesanan, memaksa PT. Aktuil -payung penerbitan majalah Aktuil yang dibangun setelah dua tahun terbit- melarikan sebagian order cetak ke PT Ekonomi, di Jalan Oto Iskandar Dinata, di Bandung juga.

Oplah terus mengalami perkembangan signifikan. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas. Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari "organisasi sex bebas."

Di negeri asalnya, baik di daratan Eropa maupun Amerika Serikat, pemberontakan anak muda dimulai setidak-tidaknya sejak 1950-an dalam bentuk tumbuhnya subkultur rock'n roll, dengan embrio munculnya generasi cross boy. Film-film Hollywood yang dibintangi James Dean macam East of Eden atau Rebel without A Cause, memberi siluet bagaimana pemberontakan itu dilakukan, bagaimana kebebasan berekspresi menentukan nasibnya sendiri.

Di Indonesia, pemberontakan anak muda, secara eklektis disalurkan melalui bahasa nonverbal dalam bentuk peniruan tingkah laku dan gaya. "Di sana," kata Remy, "perlawanan berlangsung sangat verbal, dinyatakan dengan kata-kata. Di sini, orang tidak terlatih berkalimat."

Ironisme mengalir lancar.

Sejumlah kaum muda Jakarta, misalnya, mengapresiasi tokoh Shane dalam film Shane yang dibintangi Alan Ladd, melulu sebagai tukang gebuk, jagoan tak kenal kompromi. Walhasil, Shane -yang dikagumi cendekiawan muda Arief Budiman karena moralitas ceritanya yang antikekacauan sosial- tak lebih dari simbol kebengalan. Shane, tokoh protagonis yang biasa melilitkan selendang kuning, pada akhirnya melahirkan kelompok antagonis bagi masyarakat dalam wujud geng Selendang Kuning Boy, yang pada 1970-an bikin pening aparat karena peperangan bengisnya melawan geng Marabunta Boy.

Remy mencoba meluruskan persoalan dengan caranya sendiri. Kemampuannya berbahasa dalam sejumlah bahasa dunia dan kemauannya untuk mencoba berpikir lintas bangsa, memungkinkan dirinya dapat memindahkan teks yang bersembunyi di balik fenomena pertempuran budaya tua-muda itu ke dalam sastra eksperimental yang ditekuninya.

SEGERA setelah perubahan surat perizinan, dari izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat ke Izin Menteri Penerangan melalui surat keputusan nomor 0929/SK/Dir/SIT/1970, Denny Sabri Gandanegara dari Jerman Barat mengontak markas pusat dan menyarankan agar Remy direkrut jadi redaktur, "Dia seniman hebat."

Menjelang 1970 berakhir, oplah Aktuil mencapai 30 ribu eksemplar. Percetakan PT. Ekonomi yang mulai kepayahan, mengharuskan PT. Timbul menambah kapasitas cetaknya, dengan mendatangkan mesin baru Gordon.

Untuk menampung karya-karya yang terus mengalir ke dapur redaksi, ukuran majalah yang semula 16 x 21 centimeter diubah menjadi 21 x 29,7 centimeter. Tiba-tiba saja, Aktuil merasakan betapa berat kerja mereka. Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk merekrut tenaga-tenaga pracetak, yang selama ini dikerjakan Dedi Suardi.

Maman Husen Somantri, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang dianggap menguasai seluk-beluk pekerjaan desain, direkrut Aktuil. Untuk pertama kalinya, Somantri menelurkan gagasan pemberian bonus stiker, poster, dan gambar setrikaan. Dalam tempo cepat, atribut Aktuil menyebar ke pelosok kota; dan Aktuil tak urung jadi simbol sosial anak muda kota Bandung.
"Rasanya belum menjadi anak muda kota kalau tidak menenteng Aktuil," kata Yusran Pare, penanggung jawab harian Metro Bandung, yang pada 1980-an menjadi penjaga gawang rubrik kebudayaan di Bandung Pos. Dia sendiri, di awal 1970, sudah biasa merengek pada ayahnya untuk dibelikan Aktuil.

Tiras Aktuil menembus angka 126 ribu eksemplar. Sagith memperkirakan oplah sebesar itu dicapai dalam kurun 1973-1974, atau setelah Aktuil Fans Club, komunitas kaum muda pembaca Aktuil, terbentuk di berbagai daerah. Asal tahu saja, di Jakarta, Aktuil Fans Club diurus kelompok musik Panbers. Sedangkan di Bandung, ditangani antara lain oleh A.M. Ruslan, kini penanggung jawab redaksi Pikiran Rakyat.

Gara-gara tiras yang tiba-tiba melompat ke angka fantastis, PT. Aktuil tidak bisa lagi hanya mengandalkan dua percetakan. Sebagian order cetak akhirnya dilarikan ke PT. Masa Baru yang berlokasi di kawasan Viaduct, Braga, Bandung; tempat berdirinya Bank Republik Indonesia Tower sekarang. Belakangan, dari keuntungan yang diperoleh, PT. Timbul menambah lagi mesin cetaknya: Invicta 36.

Habis masalah percetakan, terbit problem pemasaran. Kian Thiong, manajer pemasaran, keteteran. PT Aktuil kemudian memanggil Billy Silabumi, koordinator wartawan Aktuil di Jakarta, untuk turut menangani sirkulasi dan distribusi, terutama untuk kawasan Jakarta dan luar Bandung lainnya.

Adakah korelasi antara peningkatan oplah dengan keterlibatan Remy Sylado? Saya tak tahu. Di Bandung hampir tidak ada dokumen pendukung. Jangankan dokumen, kumpulan majalah dari setiap edisi, yang dulu dibendel dengan rapi dan memenuhi kamar kerja Toto Rahardjo, sudah tidak ada (saya mendapat koleksi Aktuil di perpustakaan pribadi Sylado).

Namun, dari sejumlah narasumber yang saya hubungi, hampir semuanya merujuk pada nama Remy sebagai pemberi sapuan besar pada lelakuing urip media itu. Arief Gustaman, redaktur budaya Metro Bandung, mengatakan, "Remy Sylado sedang gila-gilanya." Remy membangun komunitas sastrawan Bandung, terutama dari lapisan kaum muda. Gedung Kesenian di Jalan Naripan, Bandung, boleh dibilang tak pernah sepi pertunjukkan.

REMY Sylado adalah nama baptis Jubal Anak Perang Iman Tambajong, atau ia biasa menyingkatnya Japi Tambajong. Nama Remy Sylado, sesekali cukup ditulis 23761, diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving milik The Beatles. "Nama saya diinterpretasikan macam-macam. Padahal saya bikin asal-asalan," ujarnya terkekeh.

Remy lahir di Makassar pada 1945. Sebelum menjadi redaktur Harian Tempo, Semarang (1965) dan redaktur Aktuil, dia belajar bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani di Seminari Theologia Baptis, Semarang; belajar seni rupa di Akademi Kesenian Surakarta; serta teater di Akademi Teater Nasional Surakarta. Hampir berbarengan dengan keterlibatannya secara formal dengan pekerjaan redaksional di Aktuil, Remy menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung untuk matakuliah estetika, make-up, dan dramaturgi.

Di Aktuil, Remy tidak hanya membuat cerita bersambung Orexas, ia juga jadi guru para awak redaksi dan kontributor Aktuil. "Remy itu guru saya. Saya masuk ke Aktuil karena banyak baca artikel dia. Saya termotivasi," ungkap Bens Leo, wartawan Aktuil di Jakarta sejak 1975.

Pernyataan seirama terlontar dari Yudhistira Ardi Noegraha Massardi, seorang penggiat seni 1970-an yang sering menulis buat Aktuil. "Guru saya satu-satunya cuma dia. Remy yang mengajarkan saya menulis sajak sesuka-sukanya." Massardi kini menjabat pemimpin umum majalah Gatra, Jakarta.

Kolom-kolom Remy, yang hadir di setiap edisi sejak bergabung secara resmi pada 1973 punya daya magnetis. "Ada saja komentar orang yang dikirimkan ke redaksi," begitu Maman Sagith.

Remy, di mata Sagith, berhasil memberikan cetak biru Aktuil untuk tidak sebagai majalah hiburan belaka, tetapi juga tempat digodoknya gagasan-gagasan baru dan orisinal. Artikel musik di tangannya adalah catatan tentang kebudayaan dan peradaban. Dari titik pandangnya, sastra dan musik bisa juga jadi sebuah pertautan yang utuh, koheren, seperti terekam dalam tulisan-tulisannya mengenai Marc Bolan atau H.G. Wells, tokoh-tokoh penting 1970-an yang mengawinkan puisi dan musik. "Saya mencoba mencari alternatif, di luar musik pop yang menjadi musik niaga," Remy menerangkan.

Remy menilai, pop sudah sedemikian merasuki sendi-sendi kehidupan kaum muda, sehingga mereka tenggelam ke dalam massifikasi produk pop. Sialnya, musik pop yang digaulinya tak lebih dari musik yang menurut Remy "cengeng." Ia hendak menawarkan pilihan lain. Ia tahu, musik alternatif versinya, baik yang ditampilkan melalui pentas maupun lewat tulisan-tulisannya di Aktuil, berpotensi untuk tidak laku. "Tapi, saya tidak mau tenggelam dalam model yang lain," tandasnya.

Tulisan-tulisan Remy di Aktuil menginspirasi sejumlah musisi untuk melakukan perlawanan terhadap selera pasar. Yan Hartlan dan kawan-kawannya sesama musisi Bandung mempopulerkan irama country di Bandung. Syairnya tidak melulu cinta dan patah hati, tapi juga tafsir hidup lain yang lebih luas.

YANG menarik dari Remy Sylado adalah kepeloporan dan sikapnya yang cenderung devian. Pada 1980-an, ia misalnya mementaskan sebuah opera di Senayan, dengan tokoh Yesus seorang putra Papua dari kelompok Black Brother. Sebelumnya, untuk pertama kalinya, Remy membuat buku dramaturgi pertama. Dan di Aktuil, ia memelopori eksperimen sastra mbeling, termasuk dalam puisi.

Tidak ada batasan usia, status sosial, dan "derajat" kepenyairan untuk menulis puisi mbeling di Aktuil. Dalam beberapa kesempatan, Remy Sylado bahkan sengaja menampilkan puisi-puisi yang disebutnya jelek. Tak usah heran kalau gerakan mbeling berhasil mencetak ribuan puisi dan karya sastra lainnya, selain menelurkan ratusan nama dari dalam dan luar negeri.

Kebanyakan penyair mbeling memang suka berkelakar. Lihat misalnya, bagaimana Nhur Effendhi Ardhianto memberi makna pada puisinya, "Penyakit Turunan" (1974):

habis makan
kenyang.

Atau Remy dengan puisinya, "Waktu Doa Ulangtahun Frya Immambonjol" (1974):

terima kasih tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk

Dasar ideologis puisi-puisi mbeling tentu saja bukan dimaksudkan semata untuk lelucon. Lebih dari itu, para penyair mbeling -yang dirumuskan redaksi Aktuil sebagai "sikap nakal yang tahu aturan"- pada mulanya bermaksud memberi tandingan pada puisi-puisi establishment yang mendewakan bobot dan pesan.

Sebagai sebuah gerakan sastra, ungkap Massardi, mbeling boleh dibilang kredo sastrawan muda 1970-an, yang secara tegas ingin mendobrak kebekuan, sekaligus menggugat dominasi Jakarta yang berpusat pada penyair macam Sapardi Djoko Damono atau Goenawan Mohamad. "Saya gembira saya ambil bagian di dalamnya," kata Massardi.

Di kesempatan lain, Remy menegaskan, "Manusia lahir bukan untuk jadi seniman. Manusia lahir untuk menjadi manusia. Hidup berada di atas junjungan kepalanya. Bukan seni yang harus dijunjungnya. Seni harus diletakkan di telapak kaki .... Yang merasa bangga jadi penyair mudah-mudahan hanya mereka yang mimpi di langit dalam tidurnya di atas tikar yang penuh kepindingnya."

Disemangati atau tidak oleh pernyataan-pernyataan seperti itu, muncul kemudian gejala umum, para penyair mbeling secara akrobatis ramai-ramai melemparkan sindiran, ejekan, pun caci-maki kepada para penyair yang sibuk dengan suku kata, bunyi, tekanan, aspek ortografis, visual, gaya, bentuk, dan imajinasi. Melalui "Buat Penyair Tua" (1973), Remy memukul gong peresmian proyek sastra untuk mengejek:

Selamat istirahat
Buat kau, ini kain kafan
Semoga cepet dirundung frustasi.

Hari-hari selanjutnya, puisi-puisi ejekan jadi mode. Penyair garang sekelas W.S. Rendra sekalipun, kena sentil. Pada edisi nomor 136 tahun 1974, Aktuil memberi kesempatan Estam Supardi untuk mengolok-olok Rendra:

selamat malam tuan rendra
oh, tuan laki-laki bukan?
burung
tuan
kondor, kedodor.

Walau terkesan asal jadi, puisi mbeling tak dapat dibendung kehadirannya di forum-forum pembicaraan sastra. Hasil penelitian Soedjarwo, Th. Sri Rahayu
Prihatmi, dan Yudiono K.S., para dosen fakultas sastra dan budaya Universitas Diponegoro, Semarang, yang belakangan dibukukan menjadi: Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, terungkap bahwa pada pemilihan buku kumpulan puisi terbaik, buku Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira Ardi Noegraha Massardi diputuskan Dewan Kesenian Jakarta sebagai salah satu pemenangnya, bersama Peta Perjalanan (Sitor Situmorang), Meditasi (Abdul Hadi W.M.), dan Amuk (Sutardji Calzoum Bachri). Tiga nama yang disebut terakhir keberatan disandingkan dengan Massardi.

Di mata Sutardji Calzoum Bachri, Yudhistira Massardi adalah penyair yang lugu. Syairnya?

"Kitsch," kata Abdul Hadi W.M.

"Parodi yang gagal dari sajak," ujar Sitor Situmorang.

"Mereka sangat tersinggung karya saya disejajarkan dengan mereka. Mereka ini teman-teman saya juga, sama-sama pernah menyuarakan mbeling. Justru Goenawan Mohamad yang memberikan respon. Padahal dia yang selama ini digugat," tutur Massardi. Goenawan Mohamad, dalam pemilihan tersebut, bertindak sebagai salah seorang juri.

Sejumlah media ramai memberitakan dewan juri menarik keputusannya. Padahal, kisah persisnya tidak seperti itu. "Mereka mengambil hadiahnya. Saya nggak. Kurang ajar. Ha ha ha ha," Massardi ngakak, menceritakan ulah teman-temannya itu.

TAHUN 1975, bekerja sama dengan Peter Basuki dari Buena Ventura, Denny Sabri Gandanegara dari Aktuil mengundang Deep Purple ke Indonesia. Selama dua hari, 5-6 Desember 1975, Jakarta berguncang. Kaum muda, dari berbagai penjuru tanah air, datang ke Jakarta memastikan bahwa mereka sedang tidak bermimpi. Sekurang-kurangnya 150 ribu orang tersedot pertunjukan itu.

"Mulanya mereka tidak mau datang ke Indonesia. Tapi saya meyakinkannya. Saya berbicara dengan (Ritchie) Blackmore, lalu saya bujuk Ian Gillian," Gandanegara mengenang. Blackmore adalah pemetik gitar Deep Purple, dan sering tampil menjadi juru bicara grup ketika mereka sedang beraksi di panggung. Sedangkan Gillian adalah penyanyi, dengan lengkingan vokal yang khas.

Kehadiran mereka di Jakarta memang lebih didasarkan hubungan Gandanegara dengan anggota kelompok musik tersebut sejak paruh 1960-an. Pada 1970, Deep Purple bahkan memasukkan Gandanegara sebagai salah satu kru mereka ketika tur di delapan kota Jerman: mulai Hamburg, Hannover, Berlin, Kóln, Frankfurt, Munchen, Leverkusen, sampai Wina, juga Paris.

Ketika Deep Purple jalan ke Amerika Serikat pada 1971, Gandanegara ikut pindah. Sampai di Amerika, Gandanegara melihat wajah Paman Sam yang sesungguhnya, yang selama ini bersembunyi di balik kekagumannya pada Eropa. Amerika, pikirnya, cepat atau lambat akan menjadi pusat kekuatan musik dunia. Dengan mata dan kepalanya sendiri, Gandanegara melihat indikator-indikatornya dalam bentuk megahnya panggung-panggung pertunjukan, aliran dana yang terkesan tanpa batas, atau para manajer profesional yang bekerja penuh disiplin. Interelasi dari semua itu, musik berkembang secara akseleratif di sana. Inggris boleh melahirkan para rocker, namun Amerika memberinya uang, popularitas, dan harga diri. Inggris boleh melahirkan tradisi musik rock, tapi Amerika berhasil melakukan degresi dan inovasi atas rock: hard rock, pop rock, art rock, atau glam rock.
Gandanegara segera mengontak redaksi di Bandung untuk membuat jaringan koresponden di sana. Mendapat sambutan, Gandanegara kemudian merangkul Yan Mufni, seorang mahasiswa asal Bandung. Gandanegara juga mengajak Chondone, seorang pria campuran Amerika-Subang untuk memotret. Adang R. Sanusi yang sudah lebih dulu mewakili Aktuil di Amerika, dikukuhkan sebagai kepala perwakilan. Untuk melapis Amerika, Aktuil menunjuk Paul Subekti sebagai koresponden Kanada.

Tahun 1972, Gandanegara kembali ke Jerman Barat. Kantor redaksi luar negeri yang selama ini terbengkalai, ditata ulang. Beberapa kawannya dari Werkskunstschule, Universitas Hamburg -tempat Gandanegara menimba ilmu desain grafis selepas pra-universitas di Studium College, Universitas Aachen- direkrutnya jadi koresponden. Mereka adalah Rudy Tjio, Harry T, serta Robert Yo. Reportase mereka, ditambah koresponden lain di berbagai negara, yang makin marak, menambah gengsi Aktuil.

Kehadirannya di Indonesia bersama Deep Purple sekaligus mengakhiri karier kewartawanan Gandanegara sebagai redaktur luar negeri Aktuil. Ia mulai mempraktikan jurus-jurus talent scouting yang dipelajarinya dari Andy Cavalier, ketika tinggal di Amerika. Cavalier adalah manajer yang mengorbitkan sejumlah musisi ke blantika musik dunia, seperti Grand Funk Railroad, Helen Reddy, dan Isis.

Gandanegara mendirikan perusahaan manajemen artis: Denis International Inc. "Saya mulai dengan Superkid," kata Gandanegara. Banyak artis yang lahir dari tangannya. Sebut saja Sylvia Sartje, Emma Ratnafuri, Nicky Astria, Nike Ardilla, Poppy Mercury, Farid Hardja, dan Deddy Stanzah. Gandanegara juga mengorbitkan Priyo Sigit, Dennys Rouses, atau Richie Ricardo. "Kadang-kadang saya suka ... apa ya ... hampir seluruh penyanyi orbitan saya meninggal di puncak kariernya," katanya perlahan.

SONNY Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado adalah triumvirat pemikir Aktuil yang berhasil menaklukkan hati publik. "Peran mereka sangat besar, membawa Aktuil sebagai pelopor di berbagai hal. Dari sastra sampai musik, dari film sampai pergaulan sosial," ujar Maman Sagith.

Sagith mungkin benar. Tapi juga, tumbuh dan besarnya Aktuil boleh jadi lantaran ia melenggang hampir tanpa saingan. Khusus di kota Bandung, Aktuil bahkan hadir sebagai satu-satunya majalah hiburan.

Itu hitung-hitungan bisnisnya. Dari sisi politis, Aktuil pun sebenarnya diuntungkan sejarah. Ia mendapat "subsidi politik" rezim Orde Baru. A. Tjahjo Sasongko dan Nug Katjasungkana dalam esai "Pasang Surut Musik Rock di Indonesia" yang dimuat majalah Prisma, Oktober 1991, memaparkan bagaimana Orde Baru melakukan counter budaya terhadap sisa-sisa pengaruh rezim Presiden Soekarno, seraya menanamkan keyakinan kepada rakyat bahwa mereka tak anti-Barat.

Berbeda dengan Soekarno yang sejak 1964 melakukan pembabatan musik Barat -Soekarno menyebutnya musik "ngak-ngik-ngok"- Orde Baru dukungan militer ini justru menyokong pertunjukan-pertunjukan yang digelar anak muda. Malahan Angkatan Darat turun tangan untuk tujuan itu dengan membentuk orkes Badan Koordinasi Seni Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (BKS-Kostrad). Orkes ini dikelilingkan ke sejumlah kota besar di Indonesia, dengan artis pendukung Onny Suryono, Lilis Suryani, dan lainnya.

Badan itu pun pada akhir 1966 sengaja mendatangkan The Blue Diamond, kelompok musik terkenal dari Belanda, untuk tur bersama. Penyanyi Titiek Puspa, Bob Tutupoly, dan Ernie Djohan ikut menyemarakkan tur ini. Di hampir semua tur, BKS-Kostrad sudah lazim mempertunjukkan musik, penyanyi, atau kelompok musik, yang di masa rezim Soekarno jadi sasaran intel bahkan dilarang main.

Tidak hanya panggung pertunjukan. Rezim Orde Baru pun mendukung produksi rekaman lagu. Stasiun-stasiun radio yang menyiarkan lagu-lagu barat tak diganggu kemunculannya.

William H. Frederick dalam tulisan "Rhoma Irama and the Dangdut Style" dalam jurnal Indonesia, mengemukakan, "Sebelum Orde Baru terbuka pada aktivitas ekonomi barat, mereka terbuka pada musik rock Inggris dan Amerika."

Rezeki boom minyak 1970-an mendukung proyek menarik hati rakyat yang digalang Orde Baru ini. Di berbagai kota, bermunculan sarana-sarana hiburan untuk berbagai kelas. Pertunjukan musik tiba-tiba bergetar di banyak kota. Perusahaan-perusahaan rokok galibnya berada di balik semua panggung pertunjukan.

Kelompok-kelompok musik tumbuh subur. Calon artis bejibun antre kesempatan. Triumvirat Aktuil memanfaatkan momentum ini untuk bahan-bahan tulisannya. Aktuil memperkenalkan artis-artis luar, mulai profil sampai pada kebiasaannya manggung. "Saya yang memperkenalkan Bob Dylan," ujar Remy Sylado, mengacu pada penyanyi balada asal Amerika Serikat yang kehadirannya di sana identik dengan gerakan anti Perang Vietnam 1960-an dan 1970-an.
Tiadanya televisi komersial dan klip video, memacu pertumbuhan bisnis Aktuil sebagai sarana promosi kaset, artis debutan baru, dan aktivitas para promotor showbiz. Bisa dipahami kalau Aktuil kemudian jadi bacaan wajib buat kalangan pecinta musik.

"Ketika rock sedang booming di seluruh Indonesia, Aktuil menyatukan semua ini. Ia menjadi outlet dari seluruh daerah musik," kata Massardi.

KEBERHASILAN Aktuil menggugah orang lain untuk melakukan investasi pada media yang menekuni musik, film, dan ... sastra mbeling. Di Jakarta, misalnya, penerbitan pers Tiara Klik berdiri. Dari kelompok ini lahir sejumlah penerbitan yang jadi pesaing Aktuil seperti Ultra dan Top.
Sejak 1974, Remy Sylado sering diminta menulis di Top. Pada 1975, Remy mengundurkan diri dari Aktuil dan masuk Top. "Memang faktor ekonomis masuk dalam pertimbangan, tapi saya pindah lebih disebabkan oleh persahabatan," tutur Remy. Lagi pula, aktivitas seni dan kegiatan mengajarnya di Jakarta makin meminta perhatian lebih.

Hanya itu? Kalau daftar alasan kepindahan Remy hendak diperpanjang, maka suasana kerja di Aktuil sepanjang tahun 1974 mungkin benar jadi pemicunya. Sejak dia membantu Top, Remy merasakan suasana kerja yang gerah. "Membantu Top," ujarnya, "buat orang Aktuil saya itu dianggap musuh dalam selimut."

Kepergian Remy yang disusul Denny Sabri Gandanegara, karena makin jarang masuk kantor demi kesibukannya mencari artis-artis berbakat, tampaknya merupakan pukulan telak buat Aktuil. Bukan saja Aktuil kehilangan daya sastranya, reportase luar negeri yang tadinya terkoordinasi rapipun tak lagi menghadirkan greget.

Triumvirat Aktuil habis. Di dalam kantor, tinggal Sonny Suriaatmadja sendirian. Tahun 1976, tiras Aktuil mengalami saturasi: melorot dan terus melorot.

"Saya kira," ungkap Remy, "redaksi Aktuil sudah mulai menua. Kalau redaksi menua dan tulisan-tulisannya adalah pelimpahan ketuaannya, itu sudah tidak cocok lagi dengan segmen pembacanya."

Sejak awal, Remy dan sejawatnya tahu persis mereka harus membuat bacaan untuk kisaran umur 16-18 tahun. "Sudah saya katakan pagi-pagi betul, potensi Aktuil itu remaja," tandas Remy ketika saya temui di rumahnya baru-baru ini.

Lonceng kematian mulai berdentang di tahun 1977, ketika oplah Aktuil yang
sebelumnya sudah menembus angka 100 ribu eksemplar lebih, tinggal sekitar 30
ribu eksemplar.

Toto Rahardjo mulai mondar-mandir di dalam kantor dan menyuruh anak buahnya, Billy Silabumi, untuk mengecek permohonan paten merk Aktuil ke Departemen Kehakiman. Paten dianggap penting sebagai usaha mempertahankan diri dari jarahan orang.

Akhir 1978, oplah Aktuil secara dramatis meluncur tajam. Tinggal 3.000 atau 4.000 eksemplar.

Sondang Pariaman Napitupulu, ekspentolan organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dan mantan wartawan beberapa majalah, rupanya mencium ancaman kehancuran Aktuil. Napitupulu hilir-mudik Jakarta-Bandung mengutarakan niatnya "membeli" Aktuil. Rahardjo tak punya kekuatan untuk menolaknya.

Pada 1979 Aktuil pun mulai diterbitkan dari Jakarta. Toto Rahardjo tetap pemimpin umum tapi jabatan pemimpin redaksi dialihkan ke Napitupulu. Musik dan sastra mbeling tak lagi dijadikan generator pendongkrak oplah. Di tangan Sondang Pariaman Napitupulu, Aktuil disulap jadi majalah umum. Menurut Remy Sylado, majalah ini lebih tertarik pada "politik dan tetek." Bens Leo menyebutnya "Aktuil Gaya Sondang."

DARI Asbari Nurpatria Krisna saya memperoleh gambaran hidup Aktuil di perantauannya. Di Jakarta, Aktuil berkantor di kawasan Proyek Senen, Jakarta Pusat, dengan percetakan PT Karya Nusantra, yang berlokasi di Kemayoran.

Krisna adalah salah seorang editor Aktuil periode Jakarta. Dia kini tinggal di Belanda dan sejak 1986 bekerja buat Radio Netherland. Sejarah mencatat, Krisna dan istrinya, Josephine Yuyu Mandagie adalah pasangan pertama yang memperoleh anugerah hadiah jurnalistik Adinegoro. Mandagie sampai kini masih jadi koresponden Suara Pembaruan.

Krisna didatangi Sondang Napitupulu yang meminta Krisna jadi redaktur pelaksana Aktuil. "Saya terima tawaran tanpa membicarakan gaji," kata Krisna seraya mengungkapkan, "Saya menjaga gawang isi, karena Sondang mempercayakannya kepada saya, termasuk soal bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa asing."

Di tangan dwitunggal Napitupulu-Krisna, Aktuil dapat merangkak lagi. Untuk dapat berlari, Napitupulu mencoba membujuk Remy Sylado, yang sejak 1975 mengelola majalah Top. Remy menyatakan oke.

Aktuil sempat menembus tiras 25 ribu eksemplar, namun angka ini tak bertahan lama. Penyebabnya? Berbeda dengan semasa Bandung, Aktuil periode Jakarta hampir bisa dikatakan abai terhadap penggalian ide-ide baru, baik dalam musik maupun sastra.

Napitupulu bahkan terkesan hendak mengembalikan Aktuil ke semangat tahun 1950-an, ketika jagat media penuh dengan teriakan dan caci-maki. "Orang tidak suka lagi pada pers yang gegap-gempita. Muak orang baca media seperti itu," komentar Remy.

Namun demikian, satu hal yang pantas dicatat, laporan investigasinya lebih maju ketimbang Bandung. Aktuil "Gaya Sondang" diwarnai oleh "jurnalisme bongkar kasus sampai ke akar-akarnya."

"Sebagai wartawan," ujar Krisna, "Sondang P.N. sangat baik dalam investigasi. Kerjanya seperti kuda, pantang menyerah, walaupun diancam akan dibunuh sekalipun."

Tapi Napitupulu bukan superman, yang dengan sigap berani menantang maut. Dia tak jarang main lempar tanggung jawab. Krisna masih ingat, misalnya, kehadiran seorang perwira militer yang murka karena merasa dirugikan Aktuil. "Saya yang harus menghadapinya," kata Krisna.

Peristiwa hampir senada juga dialami Remy Sylado ketika Aktuil digugat Soehoed Warnaen, wakil gubernur Jawa Barat. Warnaen merasa difitnah telah menyerobot sepetak tanah milik seorang pensiunan militer, di kawasan Jalan Setiabudhi, Bandung. "Tak ada satu pun wartawan Bandung berani muat. Saya memberitakannya sampai kasus ini disidangkan," ujar Remy.

Di masa kepemimpinan Napitupulu, sudah jamak awak Aktuil dipanggil departemen penerangan untuk "dibina" berkaitan dengan tulisan dan foto yang dimuatnya, baik karena dianggap melanggar susila maupun mencemarkan nama baik.

Kebanggaan awak Aktuil terhadap Napitupulu rupanya tak bertahan lama. Oplah merosot. Satu per satu, awak Aktuil meninggalkan Napitupulu. Krisna keluar pada 1981 karena merasa tak cocok lagi. Pada tahun itu pula Napitupulu diturunkan dari kursi pimpinan oleh para anak buahnya.

ASBARI Nurpatria Krisna yang sedang memulai kehidupan baru, kembali ke bangku kuliah, ramai-ramai didatangi bekas anak buahnya. Dia diminta memimpin mereka. Krisna menyatakan siap jadi pemimpin redaksi, dengan sejumlah persyaratan bahwa selama setahun kepemimpinannya orang tidak boleh merecoki kebijakannya.

Dia ingin menaikan kembali Aktuil yang mulai terpuruk, seraya menata manajemen sumber daya manusia, yang dinilainya lemah. Krisna pun mencanangkan program pendidikan buat wartawannya. Namun, bekerja tertib ala Krisna rupanya tak populer bagi mereka. Lebih-lebih setelah Krisna langak-longok ke sektor bisnis, yang dalam pandangan Krisna, mengesankan adanya ketidakberesan. Ia, misalnya, terheran-heran ketika muncul "Konsep Iklan 3-1" alias tiga iklan dibayar satu yang didesain Nuke Mayasaphira, manajer iklan.

Apa benar konsep seperti itu ada?
"Ada kali, ya?" kata Lies Hindriati, yang waktu lampau menjadi staf tata usaha Aktuil. Hindriati kini bekerja untuk PT Nindotama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan outdoor, tempat Mayasaphira jadi direktur utamanya.
Toto Rahardjo, pemimpin umum Aktuil, membenarkan adanya konsep semacam itu. "Waktu itu," ungkapnya, "memang kita susah cari iklan." Toh Rahardjo tak memungkiri kalau resep tersebut tak cukup manjur menyehatkan kembali Aktuil, yang mulai terseok-seok.
Konflik menggejala. Saling curiga merajalela. "Mereka tidak lagi satu misi. Tidak sekompak dulu. Waktu di Bandung, Aktuil kompak sekali. Kita malahan sering piknik beramai-ramai, termasuk ke Bali," kata wartawan Aktuil Bens Leo.

Krisna patah arang. Dalam sebuah rapat lengkap, tepat setahun kepemimpinannya, Krisna berucap, "Kalau ingin kedudukan saya, ambillah, saat ini juga saya keluar." Krisna meninggalkan rapat, dan sejak itu pula tak pernah kembali ke Aktuil.

Rahardjo, sekalipun masih menjabat pemimpin umum, tak bisa berbuat banyak. Kekuasaannya hanya berdaulat di atas kertas. Secara de facto, kekuasaan Aktuil kini sepenuhnya di tangan Noor Slamet Asmaprawira, adik Harmoko, seorang tokoh Persatuan Wartawan Indonesia dan selama hampir 15 tahun jadi menteri penerangan rezim Soeharto.

Belum tuntas konflik ditangani, hantu masalah lain muncul: kelangkaan pasokan kertas. Asmaprawira, yang kepemimpinannya semula tak mau direcoki, kini melunak dan minta bantuan Toto Rahardjo. Atas perintah Rahardjo, Maman Sagith mencoba menyurati Apandi, bendahara Serikat Penerbit Pers Jawa Barat, untuk meminta suplai kertas 10 ton per bulan agar Aktuil bisa meningkatkan tiras jadi 30 ribu eksemplar per terbit.

Yang disurati angkat tangan. Apandi merasa, Aktuil bukan lagi tanggung jawabnya. Domisili Aktuil tidak lagi di Jawa Barat. Giliran Jakarta yang disurati. Juga tak berhasil. Jakarta melihat, dalam surat izin terbit, Aktuil dinyatakan diterbitkan di Bandung.

Lonceng kematian nyaring berdentang. Hanya sekitar tiga bulan setelah Krisna mundur, Aktuil masuk ke liang lahat sejarah.

Tahun 1986, Krisna terbang ke Belanda. Beberapa saat kemudian, surat izin usaha penerbitan pers Aktuil terbang ke sekelompok wartawan pecahan Tempo yang memulai majalah berita Editor. Majalah ini dimodali Bambang Rachmadi, pengusaha yang dikenal karena menjalankan waralaba restoran McDonald di Indonesia.

MATAHARI sudah beranjak dari titik kulminasinya. Empat karyawan percetakan PT. Timbul yang berdinas hari itu, satu per satu meletakkan pekerjaannya; bersiap pulang.

"Saya biasa pulang pukul 14.30," ujar Maman Sagith, seraya membereskan sejumlah dokumen Aktuil yang berserak di mejanya.

Di luar, tawuran sejumlah pelajar bermotor sudah mereda. "Dulu, tak pernah ada tawuran di jalan ini. Anak-anak muda memilih main band di sana," Sagith menunjuk sebuah rumah di depan kantornya. Di situ New Rhapsodia, kelompok musik asal Bandung 1970-an, bermarkas.

Kantornya sendiri, di masa jaya-jayanya, jadi tempat persinggahan musisi, penyair, dan bintang film bila mereka melewati Bandung. Bahkan mereka sengaja datang mengunjungi Aktuil sekadar untuk berkenalan dan kongko-kongko. "Musisi atau penyanyi cita-citanya masuk Aktuil," kata Bens Leo, wartawan Aktuil Jakarta, yang sempat dikirim ke Jepang untuk reportase.

Kini, gedung tua itu hanya ditemani sepi segera setelah jarum jam menunjuk pukul 15.00. Tak ada lagi awak redaksi yang naik ke atas meja, membaca puisi. Tak ada lagi wartawan yang balapan membuat tulisan sekadar iseng. "Tak seorang pun orang Aktuil datang ke sini sejak Aktuil dibawa ke Jakarta," ungkap Sagith.

Ia mendengar tak sedikit awak redaksi Aktuil yang makmur seperti Maman Husen Somantri, yang mengepalai perwakilan Bank Indonesia, di London, Inggris atau Goenadi Harjanto yang menekuni bisnis lapangan golf serta real estate. Lalu, di mana triumvirat itu? Sagith menggelengkan kepala.

Remy Sylado-Denny Sabri Gandanegara-Sonny Suriaatmadja punya kesibukan sendiri-sendiri. Remy tinggal di Jakarta, di belakang penjara Cipinang, di rumah kayunya seukuran sekitar 100 meter persegi dengan benteng mirip kampung Galia dalam komik Asterix. Ia masih mengajar, melukis, menulis esai, puisi, drama, dan novel. Salah satu karyanya, Cau Bau Kan, belakangan difilmkan.

Gandanegara masih suka keluyuran dan hidup berpindah-pindah. Rumahnya di Jalan Lodaya, Bandung, tempat dulu para artis, promotor showbiz dan pengusaha rekaman berkumpul, sekarang sudah ditempati orang. Gandanegara kini asyik berkebun tomat di atas sepetak tanah warisan keluarga di Wanaraja, Garut, setelah membuka pengobatan alternatif tenaga dalam di daerah Margahayu, Bandung.

Suriaatmadja? Kabar yang sampai ke telinga saya, terakhir ia bergabung dengan radio Antassalam, Bandung, pada 1992. Dia mengasuh acara musik dangdut; musik yang tak pernah diresensinya. Di sela-sela waktu luangnya, ia menyempatkan diri mengarang beberapa buku cerita anak. Setelah terlibat problem keluarga dengan istrinya, ia menghilang ... seperti juga Aktuil yang tertimbun tumpukan puing-puing sejarah grand narrative negeri ini.

(Majalah Pantau, edisi Agustus 2001)

Denny Sabri Gandanegara telah wafat di Bandung, Jawa Barat pada hari Sabtu, 29 November 2003
Oleh Agus Sopian

Baca Selengkapnya >>

Majalah Lama: "Zaman" Edisi Perdana & No. I/Thn I Oktober 1979

Majalah Zaman, Mingguan untuk Seluruh Keluarga, bolehlah disebut sebagai "mimesis" (dalam arti luas) majalah Boss. Edisi Perdananya terbit pada minggu ke-II, September 1979, tetapi menggunakan SIT (Surat Ijin Terbit) bertanggal 31 Desember 1973 dengan keterangan: Untuk melanjutkan penerbitan MM Boss.

Edisi Perdana Zaman dibagikan secara gratis. Baru pada edisi No. 1/Thn I, Minggu I, Oktober 1979, majalah ini dijual dengan harga Rp. 250,-. Diterbitkan oleh Yayasan Bapora bekerjasama dengan PT Grafiti Pers, Penerbit Majalah TEMPO (waktu itu).


Dalam perjalanannya, di majalah ini berkumpul para seniman dan budayawan yang sudah tak asing lagi namanya di Indonesia, misalnya Danarto, Jim Supangkat, Nano Riantirano, Sori Siregar, Seno Gumira Ajidarma, Ananda Moersid, dan lain-lain. Pemimpin Redaksi: Goenawan Mohamad. Redaktur Pelaksana: Putu Wijaya.

Majalah Zaman ditutup oleh "Tempo" pada 1985. Lalu pada tahun berikutnya "Tempo" menerbitkan majalah baru: MATRA (Agustus 1986).
Diposkan oleh Kemala Atmojo Pada 7/18/2008
Kategori: Majalah Lama

Baca Selengkapnya >>

Bioskop Bandung Tempo Doeloe

Kembali melongok suasana Kota Bandung ke jaman dahoeloe, terkadang kita tercengang akan suasananya yang belum hingar bingardan semrawut seperti sekarang. Yang muncul malah rasa rindu dan menyayangkanperubahan yang begitu ekstrim terjadi.

Alun-alun Bandung
Alun-alun Bandung dengan latar Mesjid Agung dan Hotel Swarha menjadi saksi sejarah berdirinya klub sepakbola Persib Bandung yang dahulu masih bernama Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.


Pertigaan Asia-Afrika dan Braga
Dahulu bernama Grothe Postweg dan Bragaweg merupakan pusat keramaian bergaya Eropa yang sangat terkenal ke penjuru dunia, arsitektur bangunannya masih belum banyak berubah sampai saat ini.



Film dan bioskop muncul pertama kali pada dekade-dekade awal abad ke-20, yang merupakan ikon modern dari seni hiburan. Tak lama dari proses pengenalannya, bioskop kemudian segera merambah ke segenap penjuru dunia, mengisi waktu luang orang-orang kota saat itu. Ikon modernitas hiburan tersebut kemudian sampai di salah satu kota yang kita kenal punya segudang kreatifitas, Bandung, 100 tahun lalu, sekitar tahun 1907.

Saat itu dua bioskop pertama berdiri di Alun-alun Bandung dalam bangunan tenda semi permanen yang cukup besar. Bioskop-bioskop tersebut adalah 'De Crown Bioscoop' milik seorang bernama Helant dan 'Oranje Electro Bioscoop' milik Michel.

Pertunjukan perdana bioskop-bioskop tersebut berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan. De Crown Bioscoop adalah yang tampil lebih dulu. Oranje Electro Bioscoop menyusul tepat seminggu kemudian dengan pertunjukan perdananya pada Sabtu malam, 1 Desember 1907.

Tenda-tenda bioskop tersebut dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul-umbul. Pada salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang akan diputar. Lantai tenda tersebut dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Walau sarana pertunjukan film terbilang masih sederhana, tenda bioskop ini tampil cukup menghebohkan untuk ukuran seabad lalu.

Saat itu film yang diputar tentu masih bisu. Oleh karena itu, Michel sang pemilik bioskop menyediakan sebuah orgel-elektrik yang besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Pertunjukan film dimulai pukul tujuh malam. Namun, beberapa waktu sebelumnya, suara musik dari orgel Oranje Electro Bioscoop telah terdengar meramaikan atmosfer alun-alun. Musik dari orgel tersebut segera menarik perhatian publik untuk datang ke Oranje Electro Bioscoop.


Ruang pertunjukan di bioskop zaman itu dibagi menjadi beberapa kelas dengan harga karcis yang bervariasi. Karcis kelas I yang dijual lebih mahal tentu, diperuntukkan bagi orang Eropa atau mungkin pribumi dari kalangan menak, kelas II, untuk kalangan Timur asing dan pribumi dari kalangan menengah, dan kelas III atau IV untuk kalangan menengah bawah. Pilihan lain untuk menonton film dengan tarif jauh lebih murah adalah di 'feesterrein' (taman hiburan rakyat).Bagi Anda yang dating dari luar Bandung bisa datang ke tempat ini menggunakan jasa car rental Bandung. Karena dengan car rental Bandung Anda bisa lebih nyaman daripada angkutan umum, kecuali kalau mempunyai kendaraan sendiri.

Preanger Theatre (Sekarang Hotel Grand Preanger)
Bioskop Varia/Nusantara
Bioscoop Appolo (sekarang menjadi gudang Dipo Induk Stasiun Timur)


Bioscoop Oriental/Aneka
 

Bioscoop Elita/Puspita, terletak di sebelah selatan Alun-alun, di akhir tahun 70'an dibongkar menjadi Gedung pertokoan Miramar yang rusak terbengkalai sampai sekarang. 
Dengan gaya arsitektur Art-Deco nya yang khas, 
dahulu merupakan bioskop paling terkenal elit, sesuai dengan namanya.

Bioskop Dian, sekarang menjadi Dian Futsal 
Bioskop Di Bandung, Tinggal Kenangan...
 Ada banyak alasan orang nonton fim layar lebar di bioskop, sekedar jalan-jalan mengajak pacar, hobi, melepas penat, atau mencari pacar. Lebih jauh mungkin untuk menambah pengetahuan serta memetik pelajaran hidup dari alur cerita dalam fim.
Tapi pernahkah anda tahu kapan bioskop ada di tanah air atau wabilkhusus di kota Bandung?, dalam buku ”100 Tahun Bioskop di Indonesia (1900-2000)" disebutkan, sejarah bioskop dimulai tahun 1895, ketika seoang ahli elektronika Inggris Robert Paul mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Dan film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) dibawa oleh  Belanda yang ingin menengok saudara-saudaranya yang tinggal di Indonesia ahun 1020-an.
Hampir sepuluhtahun kemudian lahirlah fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos), di Bandung pada tahun tahun 1936 mucul bioskop misbar (jika hujan gerimis, penonton bubar) seperti Taman Hiburan di daerah Cicadas, Suryani Pagarsih, dan Jamika. Pada tahun itu di Indonesia ada 225 bioskop dengan rincian di Bandung ada 9 bioskop, Jakarta 13, Surabaya 14, dan Yogyakarta 6. dalam buku ini disebutkan, masa pendudukan Jepang jumlah bioskop menurun tajam, dan kembali ramai pada pasca kemerdekaan.
Di Bandung sendiri pada tahun 1970-an ada sekitar 30 gedung bioskop dari mulai kelas bawah hingga kelas elite. Bioskop kelas elite tedapat di  Alun-alun Kota Bandung seperti Elita (Puspita), Aneka (Oriental), Nusantara (Varia), Dian (Radio City), di Jalan Braga ada Majestic (Dewi), Braga Sky, Presiden, Pop dll. Gedung gedung bioskop itu kini sudah tidak ada, kecuali Nusantara (yang saat ini terancam dibongkar).
Bioskop Dian kini jadi lapangan Futsal, Majestik menjadi gedung AACC, selebihnya sudah jadi pertokoan, diskotik dan gedung Bank. Sejumlah biskop di Jalan Kebon Jati seperti Orion, Luxor, dan Nirmala yang dibangun sejak zaman kolonial milik Boosje, kini sudah jadi hotel dan diskotik. Di kawasan Pecinan (depan Pasar Baru) muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi, Bandung Theater, dan bioskop yang kini menjadi gedung kesenian Rumentag Siang dan Liberty Bioscoop di Cicadas yang kini entah menjadi apa, Taman Hiburan Cicadas jadi begnkel, bioskop Jamika jadi rumah, bioskop Suryani menjadi kantor sebuah dealer mobil.
Bioskop-bioskop di Bandung mengalami kemajuan pada tahun 1930-an, saat itu gedung-gedung bioskop baru yang megah dengan arsitektur yang khas, lengkap dengan fasilitas mutakhir, gencar didirikan oleh F.F.A. Buse, seorang pengusaha bioskop grup  Elita Consern, bioskop Elita Biograph yang didirikan di alun-alun Bandung dikenal sebagai salah satu dari dua bioskop terbaik di negeri ini saat itu.
                Sejak akhir tahun 1990-an atau awal tahun 2000, muncul fenomena konsep bioskop 21 (minim penonton), bioskop yang dulu kapasitasnya mencapai 100 orang mulai lenyap. Nama bioskop oleh anak-anak sekarang mungkin hanya sekedar kata tanpa ada fisiknya. Jika masih ada yang bernama bioskop, biasanya berada dalam pusat-pusat belanja seperti Paris van Java Sukajadi, BSM dll, itupun dengan jumlah penonton yang mengkawatirkan, sebuah bioskop zaman sekarang akan penuh hanya lantaran advertising atau propaganda film baru. Orang lebih memilih memutar VCD/DVD di rumah. Fisik sebuah bioskop tak terlihat lagi, menyelinap di sela-sela mall, plaza dan  square.
                Pentingkah kehadiran sebuah bioskop di kota?, jawabannya bisa ya bisa tidak. Tidak penting jika bioskop hanya pelengkap penderita dari hiruk pikuk informasi televisi, tapi bisa penting jika dalam rangka pelestarian dan pengembangan perfilman tanah air. Tapi masihkah harus ada bioskop yang bisa dikunjungi rakyat kelas ekonomi bawah?, sehingga mereka bisa berteriak atau tepuk tangan saat bogalalakon dalam cerita film terancam oleh penjahat?
                Ah...jika sekedar penanda sebuah kota, menarik juga utuk dipikirkan. 
Oleh Matdon
(SEPUTAR INDONESIA Kamis 26 JUNI 2008)

Baca Selengkapnya >>